Akibat Pemikiran Kuno

Ini bapak dan ibu saya ketika masih muda. Ganteng dan cantik ya !

Saya terjebak dalam takdir ada dalam pernikahan orang tua yang tidak direstui oleh sebelah pihak. Cerita yang jadi bagian masa lalu ibu yang mungkin tak enak untuk diingat kembali olehnya. Barangkali masih menyisakan goresan luka dihatinya hingga kini, meskipun telah diupayakan menjadi buram agar tak nampak di permukaan.

Pernikahan mereka tak direstui karena ibu berasal dari suku Jawa dan bapak Sumatera, pemikiran kuno yang tak akan pernah saya adopsi untuk memilih menantu.

Keluarga bapak tidak menginginkan pernikahan itu terjadi. Bapak ibu menikah di Yogyakarta tanpa satupun keluarga dekat bapak hadir disana.

Ibu dibawa pindah ke tanah Sumatera dan bergabung dengan keluarga yang faktanya memang tak mengharapkan kehadirannya. Saya seperti menonton sinetron rasanya mengingat kisah cinta bapak dan ibu yang tak direstui ini.

Dikisahkan ibu sempat tinggal di Desa Kota Donok, desa bapak dilahirkan sebelum kami semua lahir. Tinggal bersama mertua dan ipar-iparnya disana. Ibu jadi mahir berbahasa Rejang Lebong. Kakek yang tidak memusuhi ibu, sering membagi makanan untuk ibu. Hingga ibu berjanji, ibu hanya akan kembali ke desa itu jika kakek meninggal.

Bapak dan ibu ibu pindah ke kota bengkulu. Lahir anak pertama dan saya disana. Hidup susah karena bapak belum bekerja. Katanya hidup kami banyak dibantu tetangga disana. Sedangkan hubungan ibu yang masih panas dengan keluarga bapak tak membuahkan bantuan dari mereka.

Karena kondisi hubungan yang tak harmonis, yang telah menjauhkan hubungan keluarga kami dengan keluarga bapak di Bengkulu, saya tak sempat mengenal sosok kakek, ayahnya bapak hingga beliau wafat.

Katanya waktu akan memainkan perannya. Dendam akan mengikis. Pamaafan akan bertabur. Seiring bergulirnya waktu, hawa panas hubungan ibu mertua dan menantunya serta antara ipar mulai mendingin. Kala itu kami sudah pindah ke kota Bandar Lampung karena bapak bekerja menjadi dosen di IAIN Raden Intan Bandar Lampung.

Diberitakan bahwa kakek ingin sekali melihat kami ketiga cucunya dari anaknya yang bernama Fachruddin Imansyah. Tiket kereta sudah dibeli dan beliau sudah ada jadwal untuk melihat kami cucu-cucunya. Ternyata Allah mentakdirkan kami tak pernah melihat kakek karena beliau wafat sebelum sempat berangkat.

Meski angkatan orang-orang lama yang terlibat penolakan terhadap ibu sebagian tak lagi ada, keturunan mereka tetaplah sepupu saya. Hubungan kami baik menyambung hubungan ibu dengan keluarga bapak yang telah membaik. Saya tak begitu akrab mengenal dan akrab dengan semua anak-anak paman dan uwak saya yang kebanyakan ada di Bengkulu. Hanya segelintir terutama yang sudah merantau juga dan sering komunikkasi saja yang cukup dekat.

Bagitulah, masa lalu pasti menyisakan pembelajaran baik dibalik asamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *