Dear Claire : Surat Cerai

Matanya tertuju pada selapis tipis kertas putih diantara lembaran pemisah dokumen di dalam filing cabinet. Claire menariknya dan membaca surat resmi talak antara dirinya dengan suaminya dari Pengadilan Negri Agama di wilayah tinggalnya, Hilander. Sebuah kota kecil di ujung Skotlandia.

Tertulis disana bulan Februari 2015, Artinya sebulan yang lalu Claire resmi bercerai Alih-alih menangis, Claire justru tersenyum simpul. Dia sendirti tidak begitu paham apa makna senyumannya. Yang dia tau, rasanya seperti bongkahan batu amat berat yang memberati bahunya sudah lama tak ada lagi.

Claire adalah sosok perempuan mandiri yang sedikit keras kepala. Perempuan yang berani menanggung lelah dan sakitnya badan untuk mencapai impiannya. Memiliki segudang ide yang membuat kepala dan badannya lebih banyak beraktivitas untuk merealisasikan idenya. Claire bukan sosok perempuan kemayu lemah gemulai apalagi cengeng. Jangan berharap Claire bersedia menghiba pada orang lain. Mungkin itu sebabnya dia tidak merasa cocok ada dunia perkantoran apalagi instansi pemerintahan. Claire lebih senang bekerja bebas tanpa ada ikatan waktu dan bebas pula merealisasikan idenya tanpa ada birokrasi yang mengatur kecepatan langkahnya.

Claire menarik kursi kerja dan meletakkan surat talak itu di atas meja kerjanya. Melipatnya dengan baik untuk disimpann kembali, sebab mungkin surat itu termasuk surat sakti yang pasti masih ada gunanya di masa mendatang.

Sementara tubuhnya telah terasa santai di kursinya, di bagian-bagian otak Claire berseliweran banyak rencana setalah surat resmi itu dipegangnya.

Ealqm lamunanya, Claire melihat dirinya berjalan menyusuri pantai berpasir putih Miami Beach di Florida, Amerika. Rencana perjalanan yang sudah dalam agenda di dunia bisnis Claire. Ah… pasti disana tak kalah indah dengan Pantai Kuta di bali, demikian pikir Claire. Agenda itu baru akan dilaksanakan setahun kemudian.

Tiba-tiba lamunannya terputus suara ting tong dari gawainya.

“ Say, mau ikutan tour gak ke Beijing ? ,”
pesan WhatsApp dari Jenny sahabatnya megajak  Claire liburan ke China.


Wow, ajakan yang menarik pikir Claire. Uang punya, Claire bisa membayar harga wisata itu. Waktu pun leluasa karena Claire mempunyai bisnis yang sangat fleksibel waktunya dan bisa dia kerjakan dari mana saja.

Claire langsung mengiyakan ajakan Jenny dan mereka segers memulai proses pendaftaran dan persiapan keberangkatan piknik kecil mereka. Claire dan Jenny adalah dua sahabat kental sejak mereka duduk di bangku Sekolah Menangah Pertama di kota yang kebih banyak berhawa dingin itu.

Beberapa bulan kemudian….


Claire memejamkan mata saat pesawat tinggal landas menuju Beijing China dalam perhelatan sekelebat piknik dengan mengikuti tour. Dalam status kesendiriannya, Claire justru mendapatkan kebebasan memutuskan aapresiasi apa yang membahagiakan bagi dirinya atas jerih payahnya membangun bisnis. Sedangkan saat berstatus yang kebanyakan orang bilang seharusnya lebih membahagiakan karena memiliki pasangan, Claire tidaklah leluasa menggunakan uang hasil kerja kerasnya sendiri seperti saat itu. Dulu Claire lebih banyak mencintai orang lain ketimbang dirinya sendiri.

Ah, itu kan dulu. Claire mencoba menepis ingatan lamanya yang tiba-tiba muncul begitu saja.

Pesawat masih terguncang dalam proses tinggal landas. Claire membuka matanya, memandang sekeliling. Para penumpang masih menikmati proses pesawat tinggal landas. Ada yang bibirnya masih terlihat komat-kamit, mungkin membaca doa keselamatan. Melihat orang yang duduk disebelahnya, oh ternyata Jenny. Bukan pasangannya. Saat itu, Jenny lebih menyengkan untuk ada di sebelahnya.

bersambung ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *