La tahzan, Jangan Bersedih

Serangan stroke itu telah membuat Hikmah kehilangan dunianya. Saya mendapati tubuhnya kurus kering dan wajahnya kehilangan cahaya. Matanya redup, nampak awan kesedihan bertengger disana.  Saya menggenggam tangannya dan merangkai doa untuknya yang barangkali sedang mempertanyakan  kasih sayang Tuhan.

Hikmah nampak kesulitan menyampaikan isi hatinya. Perlahan airmata mengalir di pipinya. Stroke bukan hanya merenggut kaki, tangan dan badannya, namun juga jiwanya.

Saya seperti bisa duduk di posisinya. Dunia bak dewi fortuna yang sedang tak berpihak padanya. Baru saja senang-senang menikmati pekerjaan barunya sebagai honorer di sebuah instansi di kota Bandar Lampung, tiba-tiba Tuhan bertitah, cukup sudah !

Saya terfikir untuk sedikit membuka mata hatinya agar perlahan bersedia menerima ketentuan-Nya.

Kedatangan saya berikutnya mengajak suami saya yang difabel. Itu kali pertama Hikmah mengenalnya. Meski Hikmah terbata dalam bicara, saya yakin dia sangat jelas mendengar saya bercerita tentang Maman yang berhenti berjalan secara normal setelah pernah merasakan senangnya berlarian sebagaimana anak kecil seusianya.

Maman terserang polio di usia 4 tahun. Dengan usia 45 tahun saat bertemu Hikmah, berarti Maman sudah tidak berjalan normal selama 41 tahun. Jika ingin belajar mensyukuri, Hikmah yang usianya lebih tua dari Maman jelas lebih lama merasakan kondisi berjalan dengan normal.

Banyak celah bagi siapa saja untuk belajar dari ujian orang lain. Perkara membuat siapa saja tak lagi bisa berjalan normal, amatlah mudah bagi Tuhan.

Kita belajar untuk tidak jumawa atas apa saja yang saat ini kita bisa. Sekejab itu bisa sirna. Bagi Hikmah yang sulit berjalan lagi, bisa bersyukur merasakan bisa berjalan lebih lama. Tinggal berlatih untuk kembali bisa berjalan dengan semangat. Mengikis rasa putus asa dan tidak merasa jadi mahluk paling nelangsa di dunia.

Kini Hikmah telah tiada. Saya berdoa agar Hikmah pergi bukan dalam kondisi berputus asa. Namun bagi siapun yang mungkin saja menjadi Hikmah-Hikmah yang lain, bisa belajar tidak putus asa atas apa yang Tuhan ambil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *