Melihat Pelangi

Setiap anak membawa rezeki. Demikian pula kata ibu tentang kelahiran saya. Mulai sejak saya lahir, perekonomian keluarga sedikit membaik. Ibu bisa membeli tempat tidur misalnya. Dan hal yang besar yang terjadi setelah kelahiran saya adalah bapak mendapat kesempatan jadi dosen tetap. Pilihannya saat itu ke pindah ke Kalimantan atau Lampung. Bapak memilih Lampung, mungkin karena tak terlalu jauh untuk pindah dari Bengkulu. Masih sama-sama di pulau Sumatera.

Hijrah ke kota Bandar Lampung, saat itu usia saya 24 bulan. Berarti sekitar tahun 1977. Tak banyak yang saya ingat di masa ini, murni semua hanya mendengarkan kisah ibu.

Kami ditampung oleh sebuah keluarga yang Bengkulu dimana kepala keluarga ini adalah orang yang dituakan di kalangan orang-orang Bengkulu di kota Bandar Lampung. Kelak dikemudian hari, Allah mentakdirkan bapak tersebut menjadi ayah mertua saya karena 17 tahun kemudia saya menikah dengan putra bungsunya.

Kami tinggal di kontrakan yang disebut bedengan milik keluarga tetua ini di daerah Tanjung Gading. Bedengan dipinggir rel di atas tanah milik PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api). Bayangan kehidupan di bedengan tersebut bisa sedikit terekam dalam ingatan saya.

Ada beberapa keluarga yang juga tinggal di bedengan serupa. Saya bisa mengingat sebuah keluarga dengan 2 anak sebaya kakak dan saya. Bersama dua anak inilah saya biasa bermain.

Karena dekat rel kereta, saya sering membuat pisau dari paku yang sengaja kami simpan di atas rel dan menunggu kereta lewat untuk membuatnya menjadi gepeng berbentuk pisau.

Masa kecil yang menyenangkan walaupun tinggal di rumah bedengan kecil di pinggiran rel kereta api.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *