Perceraian Bukan Kiamat

Saya yakin tidak ada satupun perempuan di dunia ini yang merencanakan terjadinya perceraian. Pernikahan yang pada awal memasukinya pasti dengan niat yang pertama dan terakhir. Jatuh cinta padanya seperti tak rela siapapun menempati hatinya, bahkan orang lain di masa lalu.

Namun sebelum bicara perihal takdir, terlebih dahulu ada baiknya kita belajar memahami bahwa pernikahan bukan hanya menyatunya dua individu yang berbeda, tapi juga dua keluarga besar yang berbeda. Selain itu, latar belakang dan karakter masing-masing mempengaruhi. Pada satu titik, pengetahuan dan pengalaman yang terus bertambah mengiringi pernikahan itu bisa bergeser dan membalik rasa.

Saya satu dari sekian banyak perempuan di dunia ini yang akhirnya merasakan yang namanya perpisahan akibat perceraian. Dua orang yang bercerai pasti sulit melihat andil dirinya sendiri dalam perceraian itu. Β Sehingga menurut saya yang pernah mengalaminya, lebih baik melihat ke dalam. Demikian pula para motivator pemberdayaan diri mengajarkan. Lihatlah ke dalam dan jangan memberontak. Terima saja.

Orang banyak berkata, lebih bagus perpisahan karena kematian ketimbang karena perceraian. Kepercayaan yang pada akhirnya memberi label kurang baik pada janda akibat cerai.

Pada kasus extrim, bahkan beberapa perempuan memilih merahasiakan perpisahan mereka dengan alasan demi kebahagiaan anak-anak selain memikirkan akibat buruk pada orang tua dan keluarga besarnya.

Mereka memilih tetap serumah tapi pisah ranjang. Mereka memilih untuk tidak memprosesnya ke pengadilan. Mereka memilih untuk terlihat baik-baik saja dan pura-pura bahagia di media sosialnya.

Saya berfikir, dimanakah letak hati saya sendiri ?
Apakah saya dilahirkan hanya untuk membahagiakan orang lain ?
menyamankan hati orang tua, anak, keluarga dan orang lain yang saya pun bahkan tak mengenal mereka.

Apakah saya harus terus memikirkan apa kata orang ?

Oh TIDAK !

Seiring bertambahnya usia dan kontribusi saya di dalam hidup, saya sudah bertumbuh dan tidak seharusnya saya hanya terus memikirkan kesenangan orang lain.

Alih-alih memikirkan label buruk pada janda cerai, saya justru menutup pikiran dan hati saya dari kata rujuk. Saya memilih tidak mempertahankan pernikahan dan pura-pura bahagia. Ya, saya memang ingin menyudahinya. Biarlah saya kehilangan.  Saya telah berfikir bahwa bahagia bukan karena memiliki pasangan, tapi saya sendiri yang mampu membahagiakan hati ini.

Sedih ? Oh tentu.
Saya mengambil waktu beberapa bulan untuk menarik diri dari keramaian. Sebulan bermukim di pesantren Daarut Tauhiid Bandung dan bicara langsung dengan teh Ninih Mutmainah. Saya mendapat banyak pencerahan disana.

Setelah itu, 20 hari saya berada di Makkah dan Madinah untuk Umrah Ramadhan. Bernegosisi dengan Allah, zat yang membuat keputusan. Nikmat sekali rasanya saat itu, seperti saya sedang tidak memiliki persoalan yang sangat besar. Disana saya berdoa agar keputusan perceraian kami yang segera akan diproses di pengadilan dimudahkan, sebagai tanda Allah membenarkan pilihan yang saya buat.

Hari talak dijatuhkan, saya sedang pergi berlibur bersama anak semata wayang saya yang gemar menyelam. Saat itu dia sedang pulang ke Indonesia untuk liburan semesterankuliahnya. Kami pergi ke Bunaken Manado dan meneruskan liburan kami ke Surabaya, naik ke Gunung Bromo dan meneruskan perjalanan darat ke Malang. Saya berbahagia dan bisa melihat banyak bukti bahwa Tuhan mengasihi saya. Empat tahun setelah bercerai, saya menikah dengan seorang pria difabel karena polio yang dimata saya luarbiasa.

Alangkah banyak penglihatan baik yang Tuhan perlihatkan kemudian setelah saya kehilangan pernikahan pertama saya. Jika perceraian menjadi pengalaman hidupmu, Laa tahzan. Jangan bersedih terlalu dalam dam lama. Lanjutkan hidup dan lihatlah keberlimpahan yang Tuhan tunjukkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *