Seakan Allah Berbisik, Semua Akan Baik-Baik Saja

Perceraian adalah bentuk kehilangan yang paling menyedihkan dan menakutkan yang pernah saya rasakan. Itu terjadi tahun 2014. Namun demikian, stigma di masyarakat akan status janda ditinggal mati lebih baik daripada janda cerai tidak membuat saya surut ke belakang untuk meneruskan rencana perpisahan yang sebetulnya kami sepakati bersama.

Sebelum final, saya mencari pencerahan di Daarut Tauhiid Bandung, berdialog langsung dengan teh Ninih Mutmainah serta sebulan bermukim disana. Dilanjutkan 20 hari berumrah Ramadhan untuk mencari pesan Allah. Saya memang berdoa agar proses perceraian dilancarkan agar saya yakin pilihan untuk tidak memilih jalan yang lain, diridhoi Allah SWT. Ya, saya telah menutup rapat-rapat segala sinyal yang disebut rujuk.

Setelah talak jatuh di pengadilan agama, saya menjalani kehidupan saya sendiri. Anak saya saat itu masih kuliah di Australia. Ternyata semua baik-baik saja.

Dalam kesendirian, saya justru lebih bisa menikmati hidup, hati senang dan lapang. Saya kembali bisa memelihara kucing, hewan kesayangan saya sejak kecil dan menekuni hobby bertanam. Mulai rutin berlatih yoga dan terus mengembangkan bisnis.

Keuangan bukan sebuah persoalan. Sejak lama saya memilih tidak ada ketergantungan keuangan pada suami. Justru ikut dalam pembiayaan kebutuhan rumah tangga termasuk biaya sekolah anak.

Sementara saya asik menata dan menikmati hidup saya sendiri, seorang pria difabel karena polio yang tidak saya kenal sebelumnya di Bandung, sedang terus-menerus menangis karena kematian istri dan anak yang dikandungnya.

Empat tahun setelah perceraian saya dan empat tahun setalah dia ditinggal mati istrinya, kami ditakdirkan menikah. Ya, saya menikah dengan seorang yang memiliki kekurangan fisik, setelah berusaha menolaknya dengan berbagai cara.

Perceraian Β membuka kesempatan hati saya untuk takjub atas karya Allah yang beragam dan bagaimana Dia menjamin rezeki setiap mahluk ciptaanNYA. Takjub pada Allah yang menggenggam hati ini dan pemutuskan takdir bagi siapapun.

Maka sebelum memutuskan depresi dan terpuruk ketika kehilangan sesuatu, bagaimana jika bersabar menunggu pesan apa yang akan Tuhan sampaikan. Pasti itu pesan yang indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *