Selamat Hari Ibu

Malam telah begitu larut ketika saya tiba di rumah. Tubuh terasa lelah setelah seharian beraktivitas, tetapi rasa penat itu seakan kalah oleh keinginan untuk segera melihat anak saya yang pasti sudah terlelap di kamarnya.

Seperti biasa, saya membuka pintu kamar perlahan agar tidak mengganggu tidurnya. Ia sudah tertidur pulas dengan selimut biru kesayangannya yang menutupi hampir seluruh tubuh kecilnya. Saya mengecup keningnya, merapikan selimut yang sedikit bergeser, lalu membereskan beberapa barang yang masih berserakan di meja belajarnya.

Saat memeriksa tas sekolahnya, saya menemukan selembar kertas sobekan buku tulis yang terlipat seadanya. Kertas itu tampak biasa saja, bahkan sobekannya tidak rapi. Namun ketika saya membukanya, ada tulisan tangan anak saya yang langsung membuat waktu seolah berhenti.

“Selamat Hari Ibu.”

Hari itu sebenarnya sudah lewat tengah malam. Tanggal 22 Desember telah berganti menjadi 23 Desember saat saya membaca pesan tersebut.

Di bawahnya tertulis:

“Ibu, Selamat Hari Ibu. Aku sayang ibu. Sejak ibu ikutan AMWAY jadi sering pulang malam. Tapi aku sayang ibu.”

Deg…

Ada sesuatu yang berdesir kuat di dalam dada saya.

Anak laki-laki yang selama ini terlihat tegar. Anak yang tidak pernah menangis saat saya harus pergi bekerja. Anak yang selalu menjawab, “Iya, Bu,” ketika saya bilang akan pulang agak malam.

Ternyata ia memperhatikan semuanya.

Ia tahu ibunya sering pulang ketika ia sudah tertidur. Ia tahu ada banyak malam yang kami lewatkan tanpa sempat bercerita. Namun di balik kalimat sederhana itu, tidak ada protes. Tidak ada keluhan. Yang ada hanya cinta seorang anak yang begitu tulus.

Dan malam itu, saya duduk lama di samping tempat tidurnya, memandangi wajahnya yang damai, sambil menggenggam erat selembar kertas sobekan yang nilainya jauh lebih berharga daripada apa pun yang pernah saya dapatkan dalam bisnis. yang menuliskan itu. Saat itu ia kelas 2 SD.

Mungkin ia bertahan untuk memberikan langsung kertas ucapan yang jadi tugas di sekolahnya siang itu hingga pertahanannya runtuh karena saking ngantuknya. Alih-alih saya senang dengan ucapan Hari Ibu itu, hati saya sedih. Agak lama saya duduk memandang wajah kanak-kanaaknya sambil berfikir ulang. Iya ya, saya berhenti kerja kantoran karena ingin berhenti pulang malam dan anak sudah tidur. Saya kehilangan banyak waktu dengannya, makanya saya memutuskan berhenti bekerja.

Tapi kenapa, yang katanya bisnis dikerjakan dengan waktu fleksibel, tapi saya kembali seperti kerja kantoran ? Ah… sepertinya saya mengulang jalan yang sama.

Sering dalam seminar bisnis itu saya mendengar masukan bahwa kami yang ada di ruangan itu atau yang sedang di rumah prospek hingga malam hari dan pulang ke rumah sangat larut adalah bagian memperjuangkan masa depan keluarga. Sebuah pembenaran atau memang begitulah yang baik adanya. Saya hanya merasa bahwa saya mengulang rutinitas kerja kantoran yang sebenarnya “bukan gue banget”.

Diitulah saya belajar sesuatu sebagai seorang ibu.

Anak-anak sering kali tidak pandai mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Mereka jarang mengeluh. Mereka tidak selalu menangis ketika kita pergi. Mereka juga tidak selalu meminta kita untuk tinggal.

Namun bukan berarti mereka tidak merindukan kita.

Lewat kalimat sederhana yang ditulis dengan tangan kecilnya, anak saya tanpa sadar sedang menyampaikan sesuatu yang jauh lebih dalam. Ia tidak sedang memprotes. Ia tidak sedang marah. Ia hanya sedang menceritakan kenyataan yang ia rasakan.

“Sejak ibu ikut AMWAY jadi sering pulang malam.”

Kalimat itu bukan keluhan. Itu adalah kerinduan.

Kerinduan seorang anak yang sebenarnya ingin ibunya lebih sering ada di rumah. Lebih sering mendengarkan ceritanya. Lebih sering menemaninya sebelum tidur. Lebih sering hadir dalam hari-hari kecil yang mungkin bagi kita terasa biasa, tetapi bagi mereka adalah dunia.

Anak-anak sering memilih diam. Mereka beradaptasi. Mereka terlihat baik-baik saja. Sampai suatu hari, lewat sebuah gambar, sebuah tulisan, atau selembar kertas sobekan buku tulis, kita baru menyadari apa yang selama ini tersimpan di dalam hati mereka.

Malam itu saya memandang wajahnya yang sedang tertidur dan merefleksi diri sendiri : ternyata dalam perjalanan mengejar impian, yang katanya untuk anak, ternyata justru saya menghilangkan banyak waktu yang menjadi haknya. Saya lupa bahwa ada hati kecil yang juga sedang menunggu saya pulang. Momen inilah yang membantu saya berfikir mengganti bisnis yang dikerjakan secara offline penuh menjadi kebalikannya. Momen inilah yang mempertemukan saya dengan sebuah bisnis yang hingga hari ini keterusan dikerjakan secara online. Padahal, anak laki-laki itu kini sudah memberi saya cucu dan tidak lagi menanti saya pulang ha ha ha !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *