
Saat kepala berhenti menulis drama, hati mendapatkan ruang lebih luas untuk bahagia
Ada masa dalam perjalanan usia saya, pendapat seseorang bisa tinggal lama sekali di kepala.
Satu kalimat yang terdengar kurang berkenan. Satu ekspresi yang terasa dingin. Atau satu penilaian yang membuat saya merasa tidak cukup baik.
Semakin dipikir, semakin panjang naskah drama yang dibuat oleh kepala sendiri. Dari satu kejadian kecil, lahirlah berbagai kemungkinan. Apa saya salah bicara? Salah bersikap ? Apakah niat baik saya disalah artikan? Apakah selama ini saya memang tidak pernah cukup di matanya?
Bukan karena kejadian-kejadian itu tidak pernah menyakitkan. Beberapa memang meninggalkan rasa perih yang cukup lama. Terlebih ketika apa yang kita lakukan lahir dari rasa sayang, perhatian, atau niat tulus untuk membantu.
Rasanya tidak mudah menerima bahwa sesuatu yang menurut kita baik, ternyata tidak selalu diterima sebagai kebaikan oleh orang lain.
Namun, seiring bertambahnya usia, saya menyadari ada satu perubahan yang diam-diam terjadi.
Sebuah insiden telah merubah saya menjadi saya hari ini, yang tak lagi bersedia membebani hati karena kerja kepala yang berlebihan. Insiden yang menyakitkan itu, bukan membuat saya jadi orang yang tidak ambil peduli lagi, bukan. Tapi lebih bijaksana jika dikatakan bahwa saya Insya Allah memastikan telah berusaha maksimal meluruskan niat ketika melakukan sesuatu. Setelahnya, “Terserah Anda saja-bebas”.
Kepala saya mulai berhenti menjadi penulis drama. Yang jelas, hari ini saya tidak lagi menghabiskan terlalu banyak energi untuk menebak-nebak isi hati orang lain.
Saya tidak lagi sibuk mengulang percakapan yang sama berkali-kali sebelum tidur, dan terkadang saya menangis. Seorang Nurul yang nampak selalu tegar dan maskulin, menangis dalam diamnya menjelang tidur. Tak apa, katanya menangis ada bentuk terapi.
Saya juga tidak lagi berusaha memastikan bahwa semua orang memahami niat saya dengan sempurna.
Sekali lag, bukan karena saya menjadi tidak peduli.
Justru sebaliknya.
Saya tetap berusaha menjaga sikap. Tetap berusaha memilih kata-kata yang baik. Tetap berusaha tidak melampaui batas dan berjuang tidak menyakiti orang lain lagi, jika dulu saya pernah menyakiti orang lain.
Tetapi setelah itu, saya belajar melepaskan.
Karena saya mulai memahami bahwa niat baik tidak selalu terlihat baik di mata setiap orang.
Perkataan yang menurut kita biasa saja, bisa jadi menyentuh luka yang tidak kita ketahui. Memanggil kembali luka batin seseorang.
Tindakan yang kita maksudkan sebagai bentuk perhatian, bisa saja diterima dengan cara yang berbeda oleh orang lain.
Dan itu tidak selalu berarti ada yang salah dengan diri saya toh ?
Terjadinya drama-drama di dunia ini memang hanya karena ada dua pihak yang melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Dulu saya merasa harus memahami semuanya. Atau sebaliknya, orang lain harus paham niat saya.
Sekarang saya lebih memilih menerima bahwa tidak semua hal perlu dipahami sampai tuntas.
Tidak semua kesalahpahaman harus diperjuangkan untuk diluruskan.
Tidak semua penilaian harus dijadikan beban pikiran.
Ada ketenangan yang datang ketika kita berhenti menjadi pengelola perasaan semua orang.
Ada kebebasan yang muncul ketika kita tidak lagi menjadikan penerimaan orang lain sebagai ukuran nilai diri.
Yang bisa saya kendalikan hanyalah niat, sikap, dan tindakan saya sendiri.
Selebihnya, biarlah menjadi bagian yang tidak harus selalu saya genggam.
Mungkin inilah salah satu hadiah kecil dari bertambahnya usia.
Bukan hidup yang menjadi lebih mudah.
Melainkan hati yang mulai belajar memilih mana yang layak dipikirkan dan mana yang sebaiknya dilepaskan.
Dan ternyata, ketika kepala berhenti menulis terlalu banyak drama, hidup terasa jauh lebih ringan. Kepala tidak lagi sering berdenyut oleh pikiran yang berputar-putar.
Hati pun punya lebih banyak ruang untuk merasa tenang.
Lebih banyak ruang untuk merasa bahagia.
Lebih banyak ruang untuk sekadar menjalani hidup apa adanya.
