Penopang Tangga Yang Tak Terlihat

Kadang seseorang terlalu sibuk menghitung anak tangga yang telah sukses ia naiki, sampai lupa siapa yang selama ini menjaga tangga itu tetap berdiri.

Ketika namanya disebut sebagai karyawan terbaik tahun itu, tepuk tangan memenuhi ruangan. Raka berdiri tegak di atas panggung. Jas mahal yang dikenakannya tampak sempurna. Senyumnya lebar saat menerima penghargaan dari direktur perusahaan.

“Kesuksesan adalah hasil kerja keras,” katanya dalam pidato singkat. “Kalau kita mau berusaha lebih dari orang lain, kita pasti bisa mencapai apa pun.”

Semua orang bertepuk tangan.

Malam itu, ia pulang ke rumah mewahnya di kawasan elite. Sebuah rumah besar dengan taman rapi dan mobil mengilap di garasi. Belum seberapa lama ini, ia juga membeli sebuah apartemen yang kini disewakan. Tabungannya terus bertambah.

Menurut Raka, semua itu adalah hasil jerih payahnya sendiri.

Saat membuka pintu rumah, aroma masakan menyambutnya.

“Nanti makan malam ya, Mas,” kata istrinya, Maya.

Raka hanya mengangguk.

Pada pandangan Raka, Maya hanyalah ibu rumah tangga biasa. Ia tidak bekerja. Tidak memiliki penghasilan. Tidak ikut rapat penting. Tidak mengejar target bulanan. Dan yang pasti menurutnya, Maya tidak memiliki kontribusi apapun dalam pembelian harta yang mereka miliki seperti rumah, apartemen, mobil. Menurut Raka, mereka sekeluarga bisa hidup mapan berkat kehebatan Raka meroket di pekerjaannya.

Beberapa bulan kemudian, Maya harus menjalani operasi kecil. Dokter menyarankan istirahat total selama beberapa .Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun pernikahan mereka, seluruh pekerjaan rumah berpindah ke tangan Raka.

Awalnya ia menganggap itu mudah saja.

“Masak tinggal masak.”

“Ngurus rumah tinggal ngurus.”

“Antar jemput anak juga cuma sebentar.”

Begitu pikirnya.

Namun kenyataan ternyata berbeda.

Pukul lima pagi ia sudah bangun. Menyiapkan sarapan. Membangunkan anak-anak. Mencari seragam yang entah kenapa selalu ada yang hilang sebelah. Mengantar sekolah. Lalu berangkat kerja dengan tergesa-gesa.

Sepanjang hari pikirannya terpecah antara rapat, pekerjaan, dan pesan-pesan dari rumah.

Pak, galon habis.
Pak, adik demam.
Pak, kakak nggak mau makan.
Pak, listrik token tinggal sedikit.
Pak, guru kakak minta bapak dapatng ke sekolah.

Pak, kucing ketabrak motor.
Pak, ada tagihan yang jatuh tempo.
Pak, gas habis.
Pak, jemput adik lebih awal.

Hari-harinya berubah menjadi kekacauan kecil yang datang tanpa jeda. Target kantor mulai terlambat. Presentasi yang biasanya sempurna mulai penuh kesalahan. Ia sering datang ke kantor dengan mata merah karena kurang tidur.

Suatu sore, atasannya memanggilnya.
“Raka, ada masalah?”

“Tidak, Pak.”

“Kinerjamu menurun.”

Raka terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban.

Malam itu ia duduk sendirian di ruang keluarga. Anak-anak sudah tidur. Rumah akhirnya tenang. Di seberang ruangan, Maya masih beristirahat. Raka memandangi rumah besar yang selama ini begitu ia banggakan. Rumah yang menurutnya ia beli dengan kerja kerasnya sendiri. Namun untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang selama ini tak pernah ia lihat.

Rumah itu selalu bersih bukan karena keajaiban. Anak-anak tumbuh baik bukan karena kebetulan. Baju kerjanya selalu rapi dan nampak necis mengangkatg harga dirinya di kantor, bukan karena lemari yang menyulapnya.

Ia bisa fokus mengejar promosi bukan karena waktu tiba-tiba melambat untuknya. Ada seseorang yang selama bertahun-tahun diam-diam menjaga semua itu tetap berjalan. Memikirkannya baik-baik untuk didelegasi ke orang lainnya bahkan ikut turun tangan langsung,.

Seseorang yang tidak pernah mendapat bonus. Tidak pernah menerima penghargaan. Tidak pernah dipanggil naik ke panggung. Dan tidak pernah disebut dalam pidato suksesnya.

Maya. Istrinya.

Beberapa minggu kemudian, Maya sudah pulih. Suatu malam, Raka mengajaknya makan malam sederhana di taman belakang rumah mereka yang luas.

Ada apa?” tanya Maya heran.

Raka tersenyum.

Aku baru sadar sesuatu.”

“Apa?”

Raka menatap rumah mereka.

“Dulu aku selalu bilang rumah ini hasil kerjaku.”

Maya hanya mendengarkan.

“Apartemen itu hasil kerjaku.”

“Mobil itu hasil kerjaku.”

“Jabatan itu hasil kerjaku.”

Ia berhenti sejenak.

“Lalu selama beberapa minggu terakhir aku sadar… ternyata aku terlalu sibuk menghitung apa yang aku hasilkan, sampai lupa menghitung siapa yang membuatku bisa menghasilkan semua itu.”

Maya menunduk.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Raka melanjutkan pelan.

“Kalau selama ini aku bisa berlari kencang, itu karena ada seseorang yang menjaga rumah saat aku pergi.”

“Kalau aku bisa fokus bekerja, itu karena ada seseorang yang membereskan ribuan hal yang bahkan tidak pernah aku sadari.”

“Kalau aku terlihat hebat di luar, mungkin karena ada orang yang rela tidak terlihat di dalam. Slaah satunya kamu”

Maya tidak menjawab.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Raka benar-benar memahami arti kata bersama.

Beberapa bulan kemudian, saat menerima penghargaan lain di kantor, Raka kembali berdiri di atas panggung.mNamun kali ini pidatonya berbeda.

“Saya dulu berpikir kesuksesan adalah hasil kerja keras seseorang.”

Ia tersenyum kecil.

“Sekarang saya tahu, hampir tidak ada kesuksesan yang benar-benar berdiri sendirian.”

“Di balik setiap pencapaian, ada orang-orang yang tidak terlihat.”

“Ada pasangan yang mendukung.”

“Ada keluarga yang menguatkan.”

“Ada sahabat yang membantu.”

“Ada guru yang mengajarkan.”

“Ada banyak tangan yang ikut membangun tangga yang kita pakai untuk naik.”

“Karena itu, ketika kita sampai di puncak, jangan terlalu sibuk memandang ke bawah. Tengoklah ke belakang. Mungkin ada banyak orang yang tanpa kita sadari ikut mendorong kita sampai ke sana.”

Ruangan hening sesaat.

Lalu tepuk tangan bergema lebih lama dari biasanya.

Dan untuk pertama kalinya, Raka merasa penghargaan itu bukan hanya miliknya. Tapi juga untuk Maya istrinya, untuk anak-anak manisnya, untuk mbak Asisten Rumah Tangga mereka. Untuk kedua orang tua dan mertuanya yang tak pernah terlihat dan bersuara, tapi mungkin tak pernah lepas berdoa untuk kesuksesan yang nampaknya dari luar, ia yang meraihnya.

Kesuksesan memang membutuhkan kerja keras. Namun tidak ada pencapaian besar yang lahir sepenuhnya dari satu orang. Saat seseorang mulai merasa bahwa semua yang ia miliki adalah hasil kehebatannya sendiri, mungkin ia sedang lupa menghitung jasa orang-orang yang selama ini bekerja dalam diam. ✨

Β