
Raiza sering mendapat pujian beruntungnya ia bisa punya rumah di kawasan tersebut. Atau pujian untuk Hamis yang bekerja di sebuah perusahaan asing, adalah orang beruntung sehingga memiliki gaji besar dan mampu membeli rumah katagori menengah atas itu.
Tak jarang orang menilai bahwa hidup Raiza pasti enak dan serba mudah.
“Raiza istri yang beruntung sekali.”.
“Rumahnya bagus sekali.”
“Suaminya pasti gajinya besar.”
Kalimat-kalimat itu sesekali sampai ke telinga Raiza. Ia hanya tersenyum. Bukan karena semua itu benar. Melainkan karena ia tahu, rumah memang tidak pernah bisa bercerita. Orang hanya melihat temboknya yang kokoh. Tidak melihat air mata yang pernah jatuh di dalamnya. Tidak pernah tau kisah pengetatatn ikat pinggang dan penundaan banyak kesenangan di dalamnya.
Hamis bekerja di sebuah perusahaan asing. Jabatan yang dimilikinya cukup baik. Dari luar, banyak orang menganggap penghasilannya pasti sangat besar.
Padahal, jika dihitung dengan jujur, gajinya bahkan tidak cukup untuk mengajukan KPR rumah sebesar itu. Di masa itu, gaji kantor Hamis mungkin hanya bisa disetujui bank untuk rumah ukuran tipe maksimal 60M2 dan bukan di kawasan yang termasuk elit tersebut.
Untuk disetujui dengan KPR bank, mereka harus membayar DP yang lebih besar, dan yang jelas….mereka tidak punya!
Mereka tidak punya uang miliaran untuk membeli rumah secara tunai. Tabungan mereka juga hanya sebagai dana darurat sejumlah 6 kali gaji Hamis.
Orang tua keduanya juga bukan golongan pengusaha kaya raya yang banyak harta warisan sehingga bisa diturunkan. Orang tua mereka benar-benar hanya ASN yang semua juga paham, jika hanya mengandalkan gajinya, secara logika tak mungkinlah mewarisi atau membelikan rumah semahal itu.
Seperti keluarga muda pada umumnya, mereka masih harus menghitung biaya gizi dan sekolah terbaik terbaik untuk Hamza putra mereka. Menghitung kebutuhan rumah tangga serta banyak hal tak terduga lainnya.
Jauh dari bayangan hidup serba mudah. Lalu bagaimana mereka bisa memiliki rumah sebesar itu?Jawabannya bukan karena gaji. Melainkan karena kasih sayang. Kasih sayang Allah, kasih sayang manusia yang hatinya digerakkan oleh tangan Allah semata.
Bertahun-tahun sebelumnya, Tante Hamis atau kakak dari ibunda Hamish tergolong orang yang cukup berada. Beliau memiliki dua rumah yang besar-besar dan di kawasan yang lumayan mahal.
Suatu hari, di masa Hamis dan Raisa masih menempatu rumah kecil tipe 45 di komplek milik Angkatan Udara, tante dan om ingin diantar melihat sebuah perumahan mewah yang akan dibangun. Rencananya mereka akan membeli rumah disana. Hamis, Raiza dan Hamza mengantar eyang Hamza melihat kawasan tersebut.
Om dan tantenya langsung membeli sebuah rumah yang saat itu masih berstatus inden. Kawasan itu masih tanah kosong yang dalam pembangunan. Kantor pemsaran pun masih pakai tenda.
Rumah yang dibeli hari itulah yang akhirnya berganti nama menjadi nama Hamis dengan mentereng dalam sertifikatnya.
Namun kisah rumah itu bisa beralih ke Hamis dan Raisa, mungkin takdirnya sudah tertulis jauh sebelum Hamis dan Raiza menikah dan ada kisah sedih dalam perjalanannya.
Saat Hamis dan Raisa masih berpacaran secara diam-diam, Hamis pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan bernama Dindun, rekan kantor Hamis. Sebenarnya saat itu Raiza patah hati dan bersedih. Namun berhubung ia merasa masih sangat muda. jalannya masih panjang, banyak pria yang pasti mudah ia dapatkan, putusnya ia dengan Hamis tak menjadi beban pikiran yang lama. Raiza segera move on.
Lain cerita sejak tante Hamis mengetahui bahwa Hamis pernah menjalin hubungan jarak jauh dengan dengan Raiza namun putus karena kehadiran Dindun. Entah mengapa, Tante Hamis merasa Dindun bukan pasangan yang tepat untuk keponakannya.
Sejak saat itu, tante Hamiuslah yang ngotot menjodohkan Hamis kembali dengan Raiza, sebab tantenya lebih sreg dengan Raisa/ Alasan lain mungkin juga karena ayah Raiza dan tante Hamis sudah seperti keluarga. Ayah Raiza saat kuliah di Jogja, pernah tinggal di kosan tante. Jadi hubungan mereka sangat akrab. Mungkin itu juga yang mendorong “setengah perjodohan” Hamis dan Raiza, pembuka jalan rezeki mereka atas rumah itu.
Banyak orang mengira rezeki mereka hanya terbatas gaji dari kantor. Padahal, rejeki bisa berupa jalan keluar yang bisa saja datangnya bukan dari amalan kita sendiri, melainkan amalan pasangan hidup kita.
Harapan tante Hamis sukses menjodohkan lagi Hamis dan Raiza itu akhirnya menjadi kenyataan. Hamis dan Raiza akhirnya menikah, saat Raiza masih di semester awal kuliahnya. Hamis menjamin kalau Raiza boleh meneruskan kuliah hingga selesai dan bebas bekerja.
Tanpa pernah mereka sadari, pernikahan Hamis dan Raisa juga menjadi jembatan yang memperbaiki hubungan Hamis dengan om, suami tantenya. Hubungan yang sempat renggang selama bertahun-tahun karena urusan pekerjaan, perlahan mencair setelah mereka menikah. Meski saat resepsi pernikahan, om masih bermuka masam, tapi setidaknya mereka bersedia hadir meski keluar kota.
Awal-awal mereka menikah pun, meski setoran muka tiap minggu ke rumah tante dan om, mereka masih diperlakukan seperti orang asing. Om diam saja. Makan ya makan, Hamis dah Raiza tak pernah ditawari. Mereka seperti tamu tak diundang.
Lama-lama ketegangan Hamis dan om-nya mencair. Tidak ada lagi gengsi.
Tidak ada lagi jarak.
Yang tersisa hanyalah keluarga.
Waktu berlalu. Hamza lahir dan membesar. Hamis membeli rumah tipe kecil di perumahan biasa. Itupun saat pengajuan kredit bank, Hamis dibantu Perusahaan Pelayaran tempat Hamish mencari tambahan berupa slip gaji juga untuk menambah kekuatan pengajuan KPR bank.
Saat itu usia Hamza 4,5 tahun.
“Kalau kalian mau, rumah yang satu itu kalian beli saja.” — Saat itu, om dan tante Hamis sudah memiliki rumah besar di Jogjakarta dan Kelapa Gading. Mungkin repot juga mengurus rumah banyak bagi dua orang yang sudah terkatagori lanjut usia.
Hamis terdiam. Rumah itu terlalu besar. Terlalu mahal. Ia bahkan tidak berani membayangkan harga yang harus dibayarnya.
“Aku belum mampu, Tante.”
Tante tersenyum.
“Aku tidak menyuruhmu membayar sekarang. Cicil saja semampumu.”
Tidak ada bank. Tidak ada appraisal. Tidak ada syarat yang membuat kepala pening dan lamanya cicilan yang nyaris setengah rata-rata umur manusia di zaman modern.
Hanya kepercayaan dan satu kesepakatan sederhana.
Selama rumah itu belum lunas, kamar utama di lantai bawah tetap menjadi milik Tante dan om jika sewaktu-waktu mereka ingin menginap.
Hamis menerima tawaran itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Hari itu, bukan rumah yang paling ia syukuri. Melainkan seseorang yang masih percaya kepadanya dengan memberikan kemudahan mendapatkan harta yang sebenarnya menjadi impian namun impian yang masih terpendam jauh di kepalanya. Harta yang nilainya mungkin sulit ia raih dengan hanya mengandalkan gaji kantornya.
Hamis bekerja lebih keras untuk bisa membayuar cicilan “semampunya” sesuai perjanjian dengan tantenya, hingga bisa melunasi semuanya.
Pagi hingga sore ia bekerja di perusahaan asing. Di sela waktu, ia juga menerima proyek-proyek dari sebuah perusahaan pelayaran. Tidak selalu ada pekerjaan tambahan, tetapi ketika proyek datang, seluruh honornya langsung masuk ke tabungan khusus untuk melunasi rumah itu.
Mereka memilih menunda banyak keinginan. Tidak mengganti mobil. Tidak mengejar gaya hidup
Raiza tidak pernah menuntut hidup mewah. Ia juga memiliki gaji dari bank dimana ia bekerja. Hingga akhirnya Raiza memilih mengundurkan diri dari kantor untuk mengutamakan Hamza, Raisa tetap berjuang menambah pemasukan keluarga dengan membangun bisnis yang ia kerjakan dari rumah.
Dengan menabung sedikit demi sedikit, Raiza bisa membayar tiraiidamannya yang menurutnya keren dan mewah di masanya.
Waktu berlalu. Tabungan mereka perlahan bertambah.
Suatu hari, kabar yang tak pernah mereka harapkan datang. Tante jatuh sakit, beliau terserang storke. Pengobatannya tidak murah.
Satu per satu aset yang dimiliki tante dan om mulai dijual untuk membiayai perawatan.
Malam itu, Raiza duduk di ruang keluarga sambil memandangi buku tabungan mereka.
“Hamis…”
“Iya?”
“Berapa sisa hutang pembayaran rumah ini?”
Hamis menyebutkan angkanya. Raiza terdiam beberapa saat. Lalu ia berkata pelan,
“Kalau tabungan kita cukup… lunasi saja.”
Hamismenatap istrinya.
“Kalau dilunasi sekarang, tabungan kita hampir habis.”
Raiza mengangguk.
“Aku tahu.”
“Lalu?”
Raiza tersenyum tipis.
“Rumah ini kita dapat karena kebaikan Tante. Sekarang beliau sedang membutuhkan. Bukankah sudah seharusnya kita membalas kebaikan itu?”
Kalimat sederhana itu membuat Hamis tidak mampu berkata apa-apa.
Kadang, Tuhan memang menitipkan kebijaksanaan dan pelajaran hidup melalui orang yang paling dekat dengan kita.
Beberapa hari kemudian, seluruh tabungan hasil kerja keras Hamish selama bertahun-tahun, termasuk dari proyek-proyek sampingannya, digunakan untuk melunasi rumah itu.
Bukan karena Tante meminta. Bukan pula karena beliau menagih.
Melainkan karena Hamis dan Raisa ingin meringankan beban seseorang yang dahulu telah menjadi jalan datangnya rezeki mereka.
Hari itu tidak ada pesta. Tidak ada unggahan media sosial. Tidak ada foto serah terima.
Yang ada hanyalah pelukan panjang, air mata yang diam-diam jatuh, dan hati yang sama-sama dipenuhi rasa syukur.
Beberapa bulan setelahnya, Tante berpulang.
Rumah itu akhirnya benar-benar menjadi milik Hamis dan Raiza.
Namun setiap kali Raiza melewati kamar utama di lantai bawah yang menjadi kamarnya kini, ia selalu teringat satu hal.
Rumah ini tidak berdiri karena besarnya gaji. Rumah ini berdiri karena kebaikan hati. Karena kasih sayang. Karena hubungan keluarga yang dipulihkan mungkin karena kehadirannya.
Karena ada dua orang tua yang memilih membuka jalan ketika mereka belum mampu berjalan sendiri.
Kini, ketika ada orang berkata,
“Enak ya hidup mereka…”
Raiza hanya tersenyum.
Ia tidak pernah merasa perlu menjelaskan apa pun. Karena ia tahu, setiap rumah menyimpan cerita yang tidak terlihat dari jalanan atau prasangka orang lain.
Kita sering mengagumi hasil akhirnya.
Padahal kita tidak pernah menyaksikan doa-doa yang dipanjatkan dalam diam, kerja keras yang dilakukan tanpa sorotan, atau kebaikan hati seseorang yang menjadi jalan datangnya rezeki yang tak pernah diceritakan. Raiza ingin kisah kebaikan hati tante dan om sampai ke anak cucunya kelak. Dan menjadi untaian doa untuk terang kubur mereka.
Mungkin itulah sebabnya kita tidak perlu terlalu cepat menilai hidup orang lain.
Sebab apa yang tampak sebagai kemewahan, sering kali hanyalah ujung dari kisah panjang tentang perjuangan dan rasa sakit atau kasih sayang yang tidak pernah dipertontonkan di sosial media.

