cerita fiksi lentera di ujung jalan

Langit sore tampak kelabu ketika Alya menutup jendela kamarnya.

Angin membawa aroma tanah yang baru saja diguyur hujan. Dari kejauhan terdengar suara petir yang sesekali menggelegar, seolah ikut menggambarkan suasana hatinya.

Rumah itu tidak besar. Hanya rumah sederhana peninggalan ayahnya yang telah lama meninggal. Di rumah itulah Alya tinggal bersama ibunya yang mulai sering sakit-sakitan.

Di sudut ruang tamu, beberapa hasil kerajinan tangan buatannya tersusun rapi di rak kayu. Dulu rak itu sering kosong karena barang-barangnya cepat terjual. Kini sebagian besar hanya menjadi pajangan yang berdebu.

Alya duduk di kursi dekat jendela.

Sudah hampir enam bulan usahanya menurun.

Pesanan semakin sedikit.

Biaya hidup semakin besar.

Tabungan yang dulu dikumpulkan bertahun-tahun perlahan terkuras.

Ia mencoba tetap tersenyum di depan ibunya, tetapi saat sendirian, ia sering menatap langit-langit kamar sambil bertanya dalam hati,

“Sampai kapan semua ini akan berlangsung?”

Tidak ada jawaban.

Yang ada hanya hari-hari yang terasa semakin berat.

Setiap pagi Alya tetap bangun sebelum matahari terbit.Ia menyeduh teh, menyiapkan sarapan untuk ibunya, lalu mulai bekerja.

Ia memotret produknya. Mengunggahnya ke media sosial. Membalas pesan pelanggan. Membuat desain baru.Mencari ide baru.

Semua dilakukan dengan harapan ada perubahan. Namun sering kali hasilnya tidak sesuai harapan. Kadang satu hari berlalu tanpa satu pun pesanan masuk.

Kadang ada yang bertanya panjang lebar lalu menghilang begitu saja.

Kadang ada pelanggan yang membatalkan pesanan ketika barang hampir selesai dibuat.

Hal-hal kecil itu lama-lama terasa seperti batu yang menumpuk di dalam dada. Tidak cukup besar untuk menghancurkan. Tetapi cukup banyak untuk membuat langkah terasa berat.

Suatu malam, setelah menghitung sisa uang yang dimilikinya, Alya menangis. Uang itu hanya cukup untuk hidup satu bulan lagi.

Bukan karena marah. Bukan karena kecewa. Ia hanya lelah. Sangat lelah.

Ia merasa sudah berusaha sekuat tenaga tetapi hasilnya masih jauh dari harapan. Malam itu ia duduk di lantai kamar sambil memeluk lutut.

Air matanya jatuh tanpa suara. Di saat seperti itu, ia mulai iri kepada orang-orang yang hidupnya terlihat mudah.

Orang-orang yang usahanya berkembang. Orang-orang yang tampaknya selalu beruntung. Orang-orang yang seolah tidak pernah mengalami kesulitan.

Namun yang tidak ia sadari, setiap orang juga sedang memikul bebannya masing-masing. Hanya saja tidak semua beban terlihat oleh mata.

Keesokan harinya, Alya memutuskan berjalan kaki ke pasar. Ia membawa beberapa kerajinan untuk ditawarkan ke toko-toko kecil. Matahari cukup terik. Langkahnya terasa berat. Sebagian toko menolak dengan sopan. Sebagian lagi bahkan tidak sempat melihat barang yang ia bawa.

Menjelang siang, Alya duduk di bangku dekat taman kota. Ia membuka botol minumnya yang hampir kosong. Saat itulah ia melihat seorang nenek tua sedang berusaha mengangkat beberapa kardus ke atas gerobak kecil.

Tubuh nenek itu tampak renta. Tangannya gemetar. Beberapa kali kardus hampir jatuh. Tanpa berpikir panjang, Alya segera menghampiri.

“Biar saya bantu, Nek.”
Wajah sang nenek langsung berbinar.

Mereka bekerja bersama selama beberapa menit hingga semua kardus berhasil tersusun rapi.

“Terima kasih, Nak,” kata sang nenek.

Alya tersenyum. “Sama-sama.”

Sang nenek memandangnya beberapa saat lalu berkata,

“Kalau hidup sedang berat, jangan buru-buru menyerah.”

Alya sedikit terkejut.

“Kenapa Nenek bilang begitu?”

“Nenek sudah tua. Kadang wajah orang bisa bercerita lebih banyak daripada kata-kata.”

Alya tertawa kecil untuk pertama kalinya hari itu.

Lalu sang nenek melanjutkan,

“Dulu Nenek pernah kehilangan suami, kehilangan rumah, kehilangan pekerjaan. Saat itu rasanya seperti hidup selesai. Tapi ternyata tidak.”

Nenek itu menunjuk langit.

“Lihat awan itu.”

Alya mengangkat kepala.

Langit masih dipenuhi awan kelabu.

“Menurutmu matahari hilang?”

Alya menggeleng.

“Tidak.”

“Nah. Matahari tidak hilang. Hanya tertutup awan. Kadang hidup juga begitu. Harapan tidak pergi. Hanya tertutup masalah.”

Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepala Alya bahkan setelah mereka berpisah.

Hari-hari berlalu. Keadaan belum berubah banyak. Masalah masih ada. Tagihan masih datang. Ibunya masih perlu berobat.

Tetapi sesuatu dalam diri Alya mulai berubah. Ia tidak lagi memusatkan perhatian pada semua yang belum ia miliki. Ia mulai mensyukuri apa yang masih ia miliki.

Ia masih punya rumah. Masih punya ibu. Masih punya kesehatan. Masih punya kemampuan bekerja. Masih punya kesempatan mencoba lagi. Ia mulai fokus pada langkah kecil yang bisa dilakukan hari itu. Bukan hasil setahun ke depan. Bukan ketakutan bulan depan.

Hanya satu langkah kecil. Hari ini. Iya, langkah yang pendek-pendek saja tapi memenuhi hatinya dengan rasa syukur akan hasilnya.Β 

Suatu pagi, sebuah pesan masuk ke telepon genggamnya. Seorang pelanggan lama ingin memesan produknya dalam jumlah besar untuk acara perusahaan.

Alya hampir tidak percaya. Tangannya sampai gemetar saat membaca pesan itu. Pesanan tersebut menjadi titik balik. Tidak langsung membuatnya kaya. Tidak langsung menghapus semua masalah. Tetapi cukup untuk memberinya ruang bernapas.

Cukup untuk membuatnya kembali percaya bahwa usahanya tidak sia-sia.

Bulan demi bulan berlalu. Pesanan mulai berdatangan. Pelanggan baru mengenal produknya. Beberapa pelanggan lama kembali membeli. Perlahan, usaha yang hampir tenggelam mulai bergerak naik.

Alya masih bekerja keras. Masih menghadapi tantangan. Masih menemukan masalah baru. Namun kali ini ia tidak mudah panik. Karena ia telah belajar sesuatu yang berharga. Bahwa hidup bukan tentang menghindari kesulitan. Melainkan tentang bertahan cukup lama sampai kita menemukan jalan keluar.

Dua tahun kemudian. Alya berdiri di depan sebuah workshop kecil miliknya sendiri. Tempat itu tidak mewah. Tetapi cukup untuk membuatnya tersenyum bangga. Beberapa karyawan sedang bekerja di dalam. Suasana terasa hangat dan hidup.

Saat senja tiba, Alya duduk di depan bangunan itu sambil menikmati secangkir teh. Angin sore bertiup lembut. Langit berwarna jingga keemasan. Pemandangan yang dulu sering ia lihat dari teras rumah ketika hidup terasa begitu berat.

Ia teringat malam-malam panjang yang pernah membuatnya menangis. Teringat hari-hari ketika ia merasa tidak akan mampu bertahan. Teringat saat ia berpikir bahwa semesta sedang tidak adil padanya.

Namun kini ia mengerti.

Banyak hal yang dulu dianggap akhir ternyata hanyalah tikungan. Banyak pintu yang tertutup ternyata sedang mengarahkannya ke pintu lain yang lebih baik. Dan banyak kesulitan yang dulu terasa tidak tertahankan ternyata mampu ia lewati satu demi satu.

Ia tersenyum sambil memandang matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat. Karena sekarang ia tahu sesuatu yang dulu belum ia pahami. Bahwa malam tidak pernah datang untuk tinggal selamanya. Gelap hanya singgah sementara.

Dan seberat apa pun perjalanan yang sedang dilalui seseorang, selalu ada kemungkinan untuk sampai pada hari yang lebih baik.

Hidup memang tidak selalu mudah. Kadang kita harus berjalan dalam basahnya hujan. Kadang kita tersesat dalam kabut sehingga sulit untuk menentukan langkah ke depan dan kita memilih diam terpaku.

Kadang harus menunggu lebih lama dari yang kita inginkan. Tetapi selama kita masih mau melangkah, harapan akan selalu menemukan jalannya. Seperti fajar yang tak pernah gagal datang setelah malam. Seperti matahari yang tetap ada meski tertutup awan.

Setiap kesulitan, cepat atau lambat, akan menemukan akhirnya. Dan ketika hari terang itu tiba, kita akan menyadari bahwa semua perjuangan yang pernah membuat kita hampir menyerah ternyata sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat daripada yang pernah kita bayangkan ✨